Retreat Keluarga GKT PPI Bondowoso
Retreat Keluarga besar GKT Pos PI Bondowoso ini diselenggarakan pada tanggal 31 Agustus-2 September 2017. bertempat di Cempaka Hill Hotel-Jember.
Sebagai pembicara ialah Bapak Brury Eko Saputra
Ringkasan Khotbah Minggu 29 Oktober 2017-Ev Effendy Zamazi
SOLI DEO GLORIA,
ROMA 11:36
Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari
Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Sejarah
mencatat bahwa Gereja pernah mengalami pergumulan yang sangat berat, berkaitan tentang ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran Firman
Allah. Namun bersyukur kepada Tuhan pada
abad 16, Tuhan mengutus dan memanggil hamba-hambaNya untuk mengumandangkan
kebenaran, mengembalikan esensi gereja sesuai ajaran kitab suci. Dan oleh para reformator yang dipakai oleh
Tuhan, mengadakan reformasi gereja, dan merangkumkan lima dasar pokok-pokok iman yang disebut
dengan Lima Sola.
Sola Scriptura (Hanya Alkitab). Alkitab
adalah Firman Allah dan itulah yang menjadi standart kebenaran.
Sola Fide (Hanya Iman). Hanya dengan iman
kepada Yesus manusia diselamatkan.
Sola Gratia (Hanya Anugerah). Keselamatan diperoleh bukan karena usaha
manusia, tetapi Anugerah Allah.
Solus Christus (Hanya Kristus). Jalan satu
satunya untuk mendapatkan kehidupan kekal hanya melalui Yesus Kristus.
Soli Deo Gloria (Segala kemuliaan Hanya bagi
Allah). Wujud syukur orang yang sudah memperoleh anugerah
keselamatan yaitu memuliakan Allah.
Soli Deo Gloria.
Rasul Paulus sangat menyadari bahwa segala
sesuatu yang dia peroleh adalah anugerah Tuhan semata. Keselamatan yang
didapatkan pun adalah anugerah Tuhan, dan inilah yang menjadi dasar pemahaman
dan pemikiran bagi Paulus, bahwa
sebagai orang yang sudah menerima anugerah Allah tidak boleh tidak
hidupnya memuliakan Allah.
Apa itu memuliakan Allah?
Memuliakan Allah, bukan hanya
saat beribadah di gereja, dan tidak cukup hanya mulut saja yang memuliakan Allah. Namun
memuliakan Allah itu sifatnya total ( artinya seluruh kehidupan kita, kapanpun
dan dimanapun berada harus hidup
memuliakan Tuhan).
Kehidupan seperti apa yang memuliakan Allah?
a.
Hidup dalam kebenaran (Firman Allah yang menjadi
pedoman hidup sehari hari)
b.
Hidup dalam keadilan (Seperti yang Tuhan kehendaki)
c.
Hidup dalam kasih
(Kasih kepada Tuhan dan sesama)
d.
Hidup yang meneladani Kristus.
Praktik hidup memuliakan Tuhan di terapkan
di;
a.
Di rumah tangga
b.
Di tempat pekerjaan
c.
Di tengah masyarakat
d.
Di Gereja.
Ringkasan Kotbah Minggu, 29 Oktober 2017 Oleh Ev. Efendy
Zamazi dari GKT Probolinggo
Ringkasan khotbah Minggu, 29 Mei 2016 oleh Pdt. GUMULYA DJUHARTO
KELUARGA YANG MENYENANGKAN ALLAH
Kejadian 27:1-10
Keluarga yang menyenangkan Allah adalah keluarga yang berpusatkan pada
Kristus dan berlandaskan firman Tuhan yang tertanam dalam hati dan bukan
sekedar peraturan belaka. Artinya firman Tuhan menjadi dasar yang dipraktekkan
dalam kehidupan agar hidup kita makin serupa Kristus bukan dunia ini. Ada
beberapa ciri keluarga yang menyenangkan Allah, yang hidup mempraktekkan Firman
Tuhan demi makin serupa dengan Dia.
Mengedepankan
kejujuran. Atau dengan kata lain tidak ada modus (modal dusta) di antara
kita. Keluarga yang berlandaskan Firman Tuhan dan ingin makin serupa dengan
Kristus haruslah mengedepankan kejujuran dan bukan memiliki rencana-rencana
tersembunyi demi kepentingan diri sendiri. Teks kita menceritakan tentang
keluarga Ishak dimana Ishak ternyata lebih menyayangi Esau sehingga membuat
rencana hanya memberkati Esau sebelum dia mati. Ribka sebaliknya, dia lebih
menyayangi Yakub sehingga mencari cara sedemikian rupa termasuk menghalalkan
segala cara untuk merebut berkat itu demi Yakub anak kesayangannya. Keluarga
tidak mungkin dapat menyenangkan hati Allah kalau masing-masing mengedepankan
kehendak dan kemauan diri sendiri sehingga menyembunyikan sesuatu dan mulai
mempraktekkan kebohongan.
Mengesampingkan
Kesenangan Pribadi Demi Menolong Anggota Yang Lemah. Jelas terlihat bahwa
Ishak menyukai Esau karena 2 alasan. Pertama, karena Esau terlihat macho (gagah
dan lelaki tulen) dan suka berburu sehingga mampu memuaskan kesenangan Ishak.
Kedua, karena Yakub lebih terlihat sebagai orang rumahan dan kurang terlihat
macho. Tetapi apakah itu alasan tepat? Tidak karena bila orang tua menyayangi
salah satu anaknya karena kelebihannya yang dimilikinya, orang tua tersebut
mengabaikan kelemahan anaknya!. Terbukti Esau hanya terlihat macho diluar.
Segera setelah berkat Ishak diberikan kepada Yakub, dia meraung-raung dengan
keras. Esau terlihat rapuh di dalam. Demi menciptakan keluarga yang
menyenangkan Allah, orang tua harus mengesampingkan kesenangan pribadi, khususnya
kepuasan terhadap anak yang dianggap baik, pintar, cakep dsb dan konsentrasi
pada kelemahan anak2 tersebut supaya kita dapat menolongnya untuk mengatasi
kelemahan mereka.
Mengenal
dan mengalami berkat sejati. Kunci masalah dalam teks kita adalah penafsirankonsep
“berkat”. Benarkah hanya satu berkat yang dapat diberikan Ishak keapada
anak2nya ? Perhatikan yang dikatakan Ishak terkait berkat yang akhirnya
diberikan kepada Esau, “.... apabila engkau berusaha sungguh2, engkau akan
melemparkan kuk itu dari tengkukmu (ay.40). Apakah ini gambaran koreksi Ishak
sendiri terhadap konsep berkat yang membuatnya menyusun rencana tersembunyi
hanya untuk memberkati Esau ? Apakah juga ada berkat dari tanah2 tandus ketika
kita sungguh2 mengusahakannya &
bukan hanya berkat dari tanah2 gemuk ? Dari bagian2 lain Alkitab kita menemukan
bahwa berkat sejati bukan sekedar bicara tentang berkat materi melainkan yang
paling pertama dan utama adalah berkat dihati baik itu kedamaian, sukacita dsb
yang biasanya menyebar ke area2 lain dalam hidup kita. Sudahkan kita mengubah
pola berpikir kita bahwa berkat itu hanya berarti uang melimpah, kerjaan
lancar, semua beres ? Bukankah Tuhan dapat mengubah keadaan yang secara manusia
tidak baik ? Bahkan kita diijinkan Tuhan melewati hal2 yang tidak menyenangkan
karena ada berkat2 rohani dari perjuangan iman tersebut ?
Ringkasan khotbah
Minggu, 29 Mei 2016
oleh Pdt. GUMULYA DJUHARTORingkasan khotbah Minggu, 22 Mei 2016 oleh Lz. Y. NELSON LUAN
MENGENAL NAMA MU - MAZMUR.
46:1-12
Allah kita
adalah Allah yang besar, Allah yang dikenal oleh segala bangsa. Bangsa Israel mengenal nama Allah dengan berbagai sebutan: Adonai : Tuan, Tuanku atau Allah yang perkasa,
El: Allah yang kuat, Elohim: Sang pencipta yang Maha Kuasa, Elyon: Allah yang
Maha tinggi, Elohe Yisrael: Allah Israel, El Olam: Allah yang kekal, El Roi:
Allah yang melihat, El Shaddai: Allah yang Maha Perkasa, Immanuel: Allah beserta kita.
1. Allah Sang Pencipta yang Maha Kuasa
(Elohim)
Allah telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya.
dijadikan begitu mulia dan sangat berharga. Allah menyediakan segala
sesuatu yang kita butuhkan. Seperti burung-burung diudara Ia pelihara apalagi
kita sebagai umat Ciptaan-Nya sendiri yang telah dirancang dengan sedemikian
rupa.
Allah menjaga kita, tahu apa yang menjadi kebutuhan umatNya, Ia akan melakukan
apa pun sesuai dengan kehendak-Ny, berkuasa hidup manusia, menentukan hidup maupun mati. Semua ada didalam tangan
pengasihan-Nya.
2. Allah yang Maha Melihat (El Roi)
Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi
dihadapan-Nya. Manusia dengan cara apapun tidak dapat bersembunyi daripada-Nya.Tidak
ada satu dosa pun yang dapat tersembunyi dari
Allah. Berkaitan dengan dosa, kita seringkali berpikir bahwa apa yang diperbuat
tidak dapat diketahui oleh banyak orang selain kita sendiri dan Tuhan. Mata Tuhan tidak seperti manusia, apa yang
kita lakukan yang tersembunyi sekalipun Ia tahu. Ia melihat kita dan setiap
pergumulan kita. Ketika menghadapi pergumulan atau
ujian yang berat, jangan mengeluh dan cepat menyalahkan Tuhan, seolah Dia tidak
tau dan membiarkan kita sendiri menghadapi setiap permasalahan kita seorang
diri.
Penting memiliki pemahaman
yang benar tentang tujuan dari ujian yang Allah ijinkan adalah supaya mengetahui bahwa
kitai tidak mampu menghadapinya. Sehingga kita merasa membutuhkan Tuhan untuk menghadapinya.
3. Allah yang selalu beserta Kita
(Immanuel)
Allah Immanuel adalah Allah
yang selalu menyertai, membimbing menuntun umat pilihan-Nya. Allah berjanji menyertai manusia. Allah yang Immanuel, sudah dan akan selalu beserta kita. Penting mengenal siapa Allah
kita. Supaya
tidak diombang ambingkan oleh pengajaran-pengajaran yang tidak benar. Dia adalah Allah yang
Menciptakan kita, Dia Allah yang mengetahui atau melihat siapa diri kita dan
Dia Allah yang akan menuntun dan menyertai kita selama-lamanya. Dia adalah kota
benteng dan tempat perlindungan kita. Kepada Dialah kita berharap dan
berlindung, maka yakin dan percayalah bahwa Ia akan menuntun dan menyertai kita
sampai selamanya.
Ringkasan khotbah Minggu, 22 Mei 2016
oleh Lz. Y. NELSON LUAN
Langganan:
Postingan (Atom)













