Ringkasan khotbah 7 September 2014 oleh Ev. ANAM PENI ASIH



Nazar 
 Ulangan 23:21-23; Hakim-hakim 11:29-40
Diantara kita pernah mendengar kata Nazar. Bolehkah kita bernazar ? Menurut firman Tuhan apa artinya Bernazar ? *) Nazar artinya berjanji atau bersumpah. *) Berjanji yang dimaksud di sini adalah berjanji kepada Tuhan. *) Dalam bernazar biasanya jika keinginannya di masa yg akan dtg tercapai akan melakukan sesuatu untuk Tuhan. *) Nazar diucapkan secara sukarela bukan karena terpaksa. Sebelum mengucapkan nazar, perlu dipikirkan dgn sungguh-sungguh. Karena mrpkan janji kpd Tuhan yg harus dipenuhi dan tidak boleh dibatalkan dgn alasan apapun. Melalui Musa Allah memerintahkan bangsa Israel spy dlm mengucapkan Nazar harus berhati-hati dan bertanggung jawab. Bukan bernazar karena emosi. Bernazar atau tidak bernazar tidak berdosa. Yang berdosa adalah jika bernazar tetapi tdk menepatinya. Jangan bernazar namun tidak tahu artinya bernazar dan tdk tahu konsekuensi yg akan diterima jika tdk ditepati. Jadi jika akan bernazar kita harus tahu dpt menepati apa yg kita janjikan kpd Tuhan. Dalam Alkitab di kisahkan mengenai orang yg bernazar kepada Tuhan yg bernama Yefta. Pada suatu hari Yefta bernazar kpd Tuhan jika Tuhan menyerahkan bani Amon pdnya maka apapun yg keluar dari pintu rumahnya utk menemuinya pd waktu ia kembali dgn selamat dari bani Amon, itu akan mjdi kepunyaan Tuhan dan Yefta akan mempersembahkannya sbg korban bakaran. Ternyata Tuhan menyerahkan bani Amon kpd Yefta. Tetapi ketika Yefta pulang ke rumahnya ? anak perempuan satu2xnya menyambut Yefta dgn dgn memukul rebana dan menari-nari. Yefta mengatakan, anakku engkau membuat hatiku hancur, aku telah bernazar kpd Tuhan dan tdk dpt aku mundur. Anaknya Yefta  mengatakan,” bapa jika engkau telah bernazar kpd Tuhan, perbuatlah sesuai dgn nazar yg kau ucapkan krn Tuhan telah memberikan kemenangan melawan bani Amon. Kemudian Yefta memenuhi nazarnya sekalipun hatinya sangat hancur, sedih dan kecewa (v.35). Siapa yang boleh bernazar ? Seorang laki-laki dan perempuan boleh bernazar. Dlm PL (Bil. 30:1-16) Jika seorang laki-laki bernazar ia harus bertanggung jawab  sesuai dgn dgn yg diucapkan pd Tuhan. Ketika bernazar tanpa minta persetujuan dari isteri atau anak.  Hal ini berbeda dgn seorang perempuan yg bernazar : Jika perempuan ini belum berumah tangga harus minta persetujuan dari ayahnya, jika ayahnya setuju maka nazar itu berlaku, jika ayahnya menolak atau melarang nazarnya, maka tdk berlaku. Jika yg bernazar itu adalah seorang perempuan yg sdh mempunyai suami, nazarnya berlaku jika ada persetujuan suami, bila suami menolak nazarnya tdk berlaku.
Hana bernazar jika Tuhan memberinya seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan anak tersebut kpd Tuhan seumur hidupnya (1 Samuel 1:10-11). Satu tahun kemudian Hana mengandung dan melahirkan anak laki-laki. Hana memberinya nama Samuel. Satelah Samuel disapih, Hana memenuhi nazarnya dgn mempersembahkan Samuel kpd Tuhan (1 Sam 1:27-28) Hana berkata untuk mendapat anak ini aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yg  ku minta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkan ia kepada TUHAN.
Apa kaitannya dgn kehidupan kita sbg orang percaya saat ini ?
1.    Ingatlah dlm bernazar kita harus tahu, bhw kita bernazar kpd Tuhan harus ditepati.
2.    Lebih baik tdk bernazar dari pada  bernazar namun tdk kita tepati. Karena jika tdk kita tepati bernazar itu berdosa.
3.    Bernazar bukan mrp suatu keharusan. Bernazar atau tdk bernazar bukan dosa, yg berdosa adalah jika kita tdk menepati nazar yg sdh kita ungkapkan kpd Tuhan.
Janganlah kita bernazar namun akhirnya kecewa dan memenuhi nazarnya krn terpaksa spt Yefta. Tetapi mari belajar dari seorang HANA yg memenuhi nazarnya dgn sukacita shg ia merasakan kebahagiaan ketika yg diinginkan terlaksana.
Ringkasan khotbah 7 September 2014 oleh Ev. ANAM PENI ASIH

Ringkasan khotbah Minggu, 31 Agustus 2014 oleh dr. HARRY RATULANGI



Campur tangan TUHAN 
Markus 4:35-41
 Pertanyaan yang sering membingungkan banyak orang adalah “mengapa saya sudah taat, patuh, setia, rajin mengikut Tuhan kok, masih ditimpa musibah ?”
Bila ini dijawab sembarangan, akan dapat membuat orang tersebut mundur dalam imannya kepada Tuhan karena mereka menganggap Tuhan sudah tidak peduli kepadanya dan tidak mau ikut campur tangan dalam kehidupannya.
Bacaan kita hari ini bisa menolong kita menjawab pertanyaan ini dengan tepat.
Dalam ayat 35 kita membaca bahwa ide dan kehendak  untuk menyebrang danau itu dari Tuhan Yesus. Dalam ayat 36 kita membaca bahwa Tuhan Yesus ikut diperahu bersama murid-murid-Nya. Dari dua ayat ini kita memperkirakan bahwa perjalanan mereka pasti mulus, tidak ada masalah.
Dalam ayat 37 kita membaca bahwa mereka ditimpa angin ribut yang amat dahsyat dan perahu mereka mulai penuh dengan air.
Jadi, walaupun perjalanan itu ide dan kehendak Tuhan bahkan Tuhan ada bersama mereka, namun badai yang sangat dahsyat bisa terjadi.
Akan tetapi kita membaca juga bahwa Tuhan Yesus tetap ada diperahu bersama mereka. Tuhan Yesus tidak berdiam diri. Ketika muridnya meminta pertolongan-Nya, Ia bertidak. Akibatnya badai yang sangat dahsyat itu diredakan dan laut menjadi tenang sekali. Tuhan Yesus pasti tidak membiarkan dan tidak meninggalkan murid-murid-Nya. Jadi, bila ada sesuatu yang tidak kita inginkan  terjadi dalam kehidupan kita sikap kita adalah :
1.       Yakinlah Tuhan Yesus tetap di “perahu” bersama kita. Ia berjanji akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20).
2.       Jangan panik ! Orang panik sering mengambil keputusan yang salah yang akan membahayakan dirinya.
3.       Jangan menghadapi dengan kekuatan sendiri !. Kita banyak kelemahan, kekurangan, ketidak mampuan tidak bisa diandalkan (Yeremia 17:5).
4.       Cari Tuhan Yesus !
Dia adalah Allah yang Mahakasih yang mengasihi kita lebih dari nyawa-Nya sendiri, jadi tidak mungkin Dia akan membiarkan kita celaka, rugi, malu dan kecewa.
Dia juga adalah Allah yang Mahakuasa yang sanggup melakukan hal yang mustahil.
5.       Percaya kepada-Nya!
Dalam ayat 40, Tuhan Yesus menegur murid-murid-Nya mengapa mereka takut dan mengapa mereka tidak percaya? Tuhan Yesus ingin kita percaya penuh kepada-Nya dan janji-janji dalam Firman-Nya, karena Dia tidak pernah punya niat jahat kepada kita dan Dia selalu siap campur tangan untuk menolong kita.
Akhirnya marilah membaca janji Tuhan dalam Yesaya 41:10.
Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.
Ringkasan khotbah Minggu, 31 Agustus 2014 oleh dr. HARRY RATULANGI

Ringkasan khotbah Minggu, 24 Agustus 2014 oleh Ev. ANAM PENI ASIH

DEKAT & MENGENAL TUHAN 
Mazmur 145:14-21
 Dalam berelasi dgn sesama secara umum ada 3 hal :
  1. Kelihatannya ada kedekatan namun belum mengenal. Contoh sering kelihatan ber-sama2x namun akhirnya pisah krn ketika ada persoalan yg satu tdk dpt memahami yg lain, sulit memaafkan, sulit menerima dan sebagainya.
  2. Mengenal namun tidak ada kedekatan
  3. Saling mengenal dan ada kedekatan.
Kita dpt melihat tokoh2x dlm Alkitab yg menunjukkan bhw mrk dekat dan mengenal Tuhannya dgn baik sehingga mereka taat. Contoh : Nuh, Abraham, Paulus dan sebagainya.
Dlm perikop yg sdh kita baca, kita dpt melihat bgm Daud juga memiliki kedekatan dan mengenal Tuhan dgn baik. Perlu dipahami bhw dekat dan mengenal Tuhan bukan berarti selalu hidup enak, tanpa ada tantangan, tanpa ada kesulitan dan persoalan. Atau orang yg dekat dan mengenal Tuhan tdk jatuh dlm dosa. Daud pernah berbuat dosa.
Daud tdk menyadari bhw ia telah berbuat dosa, namun Tuhan memakai Natan untuk mengingatkan Daud. Bgm reaksi Daud ketika diingatkan ? Daud memberikan reaksi yg sangat bagus, ia menyesal, ia menyadari perbuatan dosanya bahkan ia juga merasakan bgm Tuhan menuntun dirinya pd jalan yg benar, ia merasakan bgm Tuhan tdk pernah meninggalkan dirinya dlm keadaan apapun.  Dekat dan mengenal Tuhan mrpkan kebutuhan penting dan keinginan setiap orang percaya. Apa yang dialami seseorang yg dekat dan mengenal Tuhan ?
  1.     Merasakan topangan Tuhan v.14
 Tuhan menopang semua orang yg jatuh tdk dibiarkan sampai tergeletak, yg putus asa Tuhan memberikan penghiburan. Jika ada orang yg lemah, tdk berdaya krn menangggung  beban berat. Tuhan memberikan kekuatan, kelegaan, pertolongan, jalan keluar (Mat 11:26). Daud sdh mengalami bagaimana Tuhan menopangnya sehingga ia berkata TUHAN itu penopang bagi semua yg jatuh dan penegak bagi semua yg tertunduk. 
  1. Merasakan pemeliharaan Tuhan v.15-16
-       Memberi makan tepat pd waktunya. Ini menunjukkan bgm Tuhan memberikan pertolongan tepat pd waktunya. Tuhan tdk pernah terlambat atau terlalu cepat memberikan pertolongan. Di sini Daud mengakui Engkau yg membuka tanganMu dan yg berkenan mengenyangkan segala yg hidup. Tuhan tdk membiarkan umatNya kelaparan, mengenyangkan artinya bukan kurang kenyang atau terlalu kenyang. Ini tdk baik utk tubuh. Tuhan memberikan cukup. 
3.    Merasakan keadilan dan kesetiaan Tuhan v.17 Keadilan Tuhan dgn tindakannya pada
orang yg berseru minta tolong, Tuhan mendengarkan mrk yg minta tolong, bhkan menyelamatkan mrk. Di sini Tuhan bukan hanya mendengarkan tetapi juga bertindak dgn memberikan pertolongan. Tuhan bukan hanya mendengar namun Ia juga melakukan kehendak orang2x yg takut atau taat kepadaNya. Hal ini beda dgn manusia adakalanya kita bisa mendengar namun tdk dapat berbuat apa2x. Kesetiaan Tuhan dinyatakan dgn menepati apa yg dijanjikan-Nya, Tuhan selalu menepati apa yg dijanjikan-Nya. Tuhan itu dekat dan mengenal kita, apakah kita juga dekat dan mengenal Tuhan dgn baik ? Ketika kita mengenal Tuhan dgn baik, maka kita mengetahui dan percaya bhw Tuhan hanya memberi yg terbaik shg kita merasa tenang krn Tuhan selalu bersama kita dlm segala hal. Kita dpt merasakan Tuhan menopang, memelihara, peduli, setia dan adil selama-lamanya. Sehingga Tuhan dimuliakan dlm kehidupan kita.
Ringkasan khotbah Minggu, 24 Agustus 2014 oleh Ev. ANAM PENI ASIH

Ringkasan khotbah, Minggu 17 Agustus 2014 oleh Ev. TAN HWA SAN

MERDEKA DALAM KRISTUS - Yohanes 8:30-36
Hari ini sebagai bagian dari anak bangsa, kita bersama memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan negara kita yang ke 69 tahun. Definisi kata MERDEKA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:
a.     Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri
b.     Tidak terkena atau lepas dr tuntutan
c.     Tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu; leluasa
Add caption
Dari definisi tersebut di atas, maka banyak orang berpikir bahwa kemerdekaan itu berarti bebas dari segala ikatan apa pun (otonom) dan kebebasan semacam itu amat menyenangkan. Tetapi, otonomi semacam itu tidak mungkin terwujud karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang selalu terikat dengan sesuatu di luar diri kita. Yang harus kita pikirkan  adalah apakah kita sudah mengikatkan diri pada hal yang benar dan bagaimana kita dapat hidup sesuai dengan identitas orang yang sudah mengalami kemerdekaan dalam Kristus.
Dalam perikop Yohanes 8:30-36 merupakan percakapan antara orang-orang Yahudi dengan Tuhan Yesus ketika mengajar di Bait Allah dan banyak orang-orang Yahudi percaya kepada -Nya (v.30). Percakapan ini terjadi sesaat setelah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Tuhan Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah (v.20). Dalam percakapan itu, Tuhan Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya itu  bahwa kita benar-benar menjadi murid-Nya bila kita tetap di dalam Firman-Nya (v.31). Kata “tetap” berasal dari bahasa Yunani “menō” yang berarti sekali tinggal dan tetap. Kata “meno” ini muncul lagi dalam Yohanes 15 dalam pembahasan tentang pokok anggur yang mengajarkan bahwa di luar Kristus kita akan mati, tidak bisa apa-apa. Jadi kita harus tinggal di dalam Kristus, di dalam Firman-Nya, hidup di dalam Firman-Nya, terkait dengan Dia, seperti carang dengan pokoknya, tidak boleh pernah dilepaskan, dimana ada aliran hidup yang mengalir dari Dia dan bergantung sepenuhnya kepada Dia. Kita sangat menjunjung tinggi Alkitab, dengan slogan Sola Scriptura dan Sola yang lainSola Christo, Sola Gratia, Sola Fidehingga Soli Deo Gloria. Bagi ajaran Reformed, Firman memiliki signifikansi yang begitu tinggi, karena mereka sadar hidupnya sangat bergantung dan berdasarkan pada Firman. Orang Reformed sadar bahwa mereka bisa menjadi Kristen, bisa lahir baru, bisa bertumbuh, bisa menjadi sehat rohani, disucikan, mengalami pengudusan progresif, mendapatkan penghiburan, mendapatkan kekuatan rohani, dibentuk, diubahkan, diperlengkapi, diberi kuasa untuk memberitakan Firman, semuanya itu adalah melalui Firman. Tanpa Firman, kita akan tersesat, dan menjadi berdosa. Karena itu, bagi orang Kristen yang sejati, Firman itu harus dicintai dan dipelajari dengan rajin. Pengajaran yang simpang siur harus diteliti. Kita harus minta pimpinan Tuhan dalam mempelajari dan menggumulkan kebenaran Firman. Kita seringkali sudah tahu kebenaran Firman tapi masih saja melanggarnya, tidak mau melakukannya. Kita harus selalu menggumulkan Firman Tuhan, agar Firman Tuhan tidak hanya sebagai slogan tetapi memiliki kuasa memerdekakan, yang mengubah hidup kita. Inilah orang Kristen yang merdeka
                Dalam ayat 32 mengandung 3 konsep yang sangat penting dalam semua pemikiran manusia, yaitu Pengetahuan, Kebenaran dan Kemerdekaan.  Kata mengetahui (ginosko) terdapat 56 kali dalam Injil Yohanes, yang mengandung arti pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. Sedangkan ketika kita berbicara kebenaran, maka Kebenaran itu dirumuskan sebagai kenyataan yang disingkapkan dan yang berpusat pada Yesus Kristus sendiri (ayat 36: 6 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka). Sebagai kontrasnya ialah orang-orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus, yang walaupun Yesus hadir di depan mata mereka, tetapi mereka justru menolak Dia, bahkan membanggakan kemerdekaan mereka. Bukan saja kemerdekaan sebagai bangsa, tetapi juga kemerdekaan sebagai perorangan. Mereka berkata: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun." (v.33). Mereka berkata: "Kami bukan budak! Kami bukan milik orang lain! Kami adalah orang-orang merdeka. Kami adalah Tuhan atas diri kami sendiri!" Orang-orang Yahudi sama dengan bangsa-bangsa lainnya menganggap diri lebih tinggi, lebih berharga, karena mempunyai kemerdekaan. Mereka membangga-banggakan kemerdekaan itu, sebagai warisan yang mereka terima daripada leluhur.
Nampaknya mereka merdeka, karena dapat melakukan apa yang dikehendaki, dapat membuat keputusan, dan mengambil tindakan-tindakan. Tetapi sebenarnya tidak demikian halnya. Karena kalau kulit kemerdekaan yang nampak itu dikupas, akan kelihatanlah manusia yang terikat, terbelenggu, meringkuk di bawah suatu pemerintah mutlak, suatu pemerintahan diktator yang bernama dosa. Sejak peristiwa pemberontakan di Taman Eden manusia tidak mengenal lagi arti kata kemerdekaan yang sebenarnya. Sejak kejatuhan di Taman Eden itu, manusia sudah terjual, tertakluk, menjadi milik kepada kekuasaan yang bernama dosa. Sejak waktu itu manusia tidak melakukan lagi apa yang dikehendaki seperti disangkanya, melainkan ia melakukan apa yang dikehendaki oleh tuannya yang memerintah dia, yaitu dosa. Sejak itu -- dan seterusnya -- manusia menjadi budak, tidak lagi orang merdeka. Ia hamba yang patuh kepada kuasa dosa, bukan lagi manusia yang bebas. Itulah pula yang dimaksud ketika Kristus berkata: "Setiap orang yang berbuat dosa, adalah budak dosa." (v.34). Artinya: siapa berbuat dosa, ia bukan tuan lagi, tetapi budak! Sebagai budak, manusia taat dan patuh terhadap segala yang diperintahkan dosa itu kepadanya, dan sebagai tuan, dosa itu memberi upah kepada segala hambanya. Apakah upah itu? Rasul Paulus berkata, "Upah dosa ialah maut" (Roma 6:23). Maut! Itulah upah! Nyata bahwa dosa itu tuan yang kejam sekali. Ia memberikan upah yang buruk sekali, yaitu kematian. Dan kematian itu diberikannnya kepada semua orang. Tidak ada yang terkecuali. Semuanya telah menjadi hamba  dosa, dan memperoleh upah yang sama." Sadarkah kita akan kasih-karunia Allah ini? Dan tahukah kita, bahwa Kristus sudah mewujudkan kemerdekaan kita, sehingga kta yang tadinya menjadi hamba dosa, sekarang telah menjadi anak-anak Allah. Marilah kita meletakkan kemerdekaan kita di dalam kemerdekaan yang dikerjakan Kristus. Biarkanlah kemerdekaan yang dikaruniakan Kristus menjiwai segala kemerdekaan lain yang sedang kita cita-citakan, dan yang sedang kita perjuangkan. Marialh kita memasuki pesta kemerdekaan dengan komitmen ingin bebas dari ikatan dunia yang memperbudak hidup kita – termasuk egoisme, kesombongan, harta, jabatan, seks, ketamakan, dan hal-hal lain yang bisa membuat kita berdosa dan kita harus mengikatkan diri pada firman Tuhan. Kemerdekaan dalam Kristus akan kita peroleh bila kita taat dan rela mendisiplin hidup kita dengan membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan. Membaca dan merenungkan Alkitab setiap hari dan segera menerapkannya pada hari itu juga adalah langkah sederhana untuk hidup di dalam Kristus. Kiranya Tuhan menolong kita. 
Ringkasan khotbah, Minggu 17 Agustus 2014 oleh Ev. TAN HWA SAN